“Jika Dewi Shinta lebih dulu bertemu
Rahwana, akankah dia tetap mencintai Rama, ketika mereka dipertemukan?
Mungkinkah jika ia malah mencintai Rahwana? Bukankah Shinta sosok yang
ditakdirkan untuk setia?”
Barangkali
cinta akan lebih indah ketika tidak diungkapkan. Sekedar dinikmati sendiri.
Senang sendiri. Sedih sendiri. Bahkan menikmati rindu sendirian. Bukankah
menikmati kesendirian lebih baik, dari pada membunuh kebahagiaan orang lain.
Namun apakah Tuhan sudah memikirkan soal keadilan ketika menciptakan cinta.
Maksudku, apakah ada keadilan ketika kita bicara soal cinta. Ataukah cinta
memang hanya butuh rasa saling suka, dan tentu saja nafsu belaka.
Pertanyaan-pertanyaan
itu selalu berlarian di atas kepalaku, Shinta. Setidaknya jawaban itu belum
pernah aku temui sampai senja ini. Ketika aku bisa duduk bersanding denganmu,
di senja yang merah. Senja yang tidak biasanya. Ada sedikit bau anyir darah di
senja kita.
Shinta,
menatap senja sama halnya mengenang masa lalu kita. Suatu sore yang basah,
masih dengan senja yang sama tepat sepuluh tahun yang lalu. Kau menemuiku di
kedai yang sama, dengan aroma kopi yang selalu menggoda. Tentunya kupilihkan
tempat di samping jendela agar kita lebih leluasa menikmati senja. Seperti
hari-hari sebelumnya secangkir cappuccino
dan beberapa potong tiramisu. Kala itu kita masih malu-malu untuk mengakui
tentang cinta. Kau pun masih seperti hari-hari sebelumnya dengan rambutmu yang
tergerai. Lalu sinar wajah yang alami tanpa sapuan make up, namun begitu memesona untuk dilihat oleh puluhan pasang
mata yang ada di kedai kala itu. Lalu
kau menghampiriku, meski agak terlambat sepuluh menit dari waktu kita.
Namun
Shinta, ada yang berbeda darimu sore itu. Bukan dari gaun merah yang kau
kenakan kala itu. Bukan pula tumpukan amplop yang kau bawa di cangkingan tasmu.
Bukan, bukan itu. Matamu sembab, Shinta. Padahal aku belum menyodorkan cincin
yang minggu lalu aku beli di Singapura. Aku juga belum berkata apa-apa tentang
rencana kedatangan orang tuaku ke rumahmu. Aku belum sempat berucap apa pun
sore itu. Namun kau datang dengan matamu yang sembab. Duduk di depanku,
meletakkan cangkinganmu di samping kursi lalu diam. Aku pun diam menunggu
ketenangan di deru nafasmu.
“Rah?
Apakah Salwa benar-benar mencintai Amba kala itu?” tiba-tiba kau melahirkan
kata. Namun pertanyaanmu begitu ganjil kala itu.
Salwa
memang benar-benar mencintai Amba, Shinta. Namun harga diri seorang laki-laki
kala itu memang harus ditentukan lewat pertempuran. Dan Salwa memang kalah
tanding dengan Bhisma, jawabku kala itu. Lalu entah mengapa kamu langsung
menggebrak meja. Hujan jatuh di sudut matamu. Seketika kau tutup wajahmu kala
itu. Aku pun tenggelam bersama kisah sedihmu.
“Tapi
kenapa, Salwa tidak memperjuangkan cintanya pada Amba? Dan membiarkan Amba terombang-ambing
dengan rasa bersalahnya. Apa itu bukti cinta Salwa?” pertanyaanmu sontak
membuatku terdiam Shinta.
“Ataukah
Bhisma juga sebenarnya mencintai Amba?” pertanyaanmu yang ini semakin
menenggelamkanku dalam kediaman. Aku tak mengerti maksudmu sore itu.
Lalu
tentu saja, kediamanku kau pecahkan dengan amplop putih bergambar merpati yang
bertuliskan namamu. Kau menyodorkan padaku. Ada penyesalan yang terpancar di
sudut matamu. Matamu masih sembab, sisa-sisa tangisanmu mengembun di bola
mataku. Namun aku mencoba membendung jatuhnya rintik hujan kala itu.
“Bulan
depan aku menikah, Rah. Rama melamarku.” terbata-bata kau rangkai kalimat yang
mendiamkanku. Mendiamkan seluruh darah dan denyut cintaku.
Nama
itu sudah terpatri jelas di amplop yang kau bawa. Rama Wijaya—seseorang kala
itu pernah kau kenalkan sebagai mitra kerjamu. Matamu masih sembab, namun bulan
sudah berangkat ke ruang kerja. Bintang-bintang bertaburan, nampaknya malam
bersuka cita menyambut pernikahan kalian. Namun gemuruh di hatiku kala itu
tidak bisa kubendung Shinta. Air mataku luruh bersama kepergianmu dari kedai
kala itu. Barangkali itu tangisanku yang pertama kali sejak tangisanku saat
tertabrak motor ketika berusia sepuluh tahun.
Namun
sekarang sudah berbeda, Shinta. Mulai sekarang dan mungkin tahun-tahun ke depan
kau milikku Shinta. Kini kau sudah ada di pelukanku, menikmati senja yang
memang bertambah merah sore ini. Kita duduk bersama di loteng rumahmu menikmati
ritual senja seperti masa-masa indah kita dulu. Kubopong tubuh mungilmu dari
lantai satu ke lantai dua. Kurebahkan tubuhmu dengan pasrah di kursi kayu yang
sudah kusiapkan untuk kita.
Kau
begitu cantik meski matamu tertutup, dan darah mengucur dari perutmu. Bibirmu
yang merah merona begitu manis. Kubelai rambutmu yang tergerai. Nampaknya kau
begitu menikmati ritual senja kita.
Shinta,
sejak cinta hadir di antara kita. Aku sudah merasa bahwa mencintaimu adalah
bahagia dan sedih—seperti yang pernah dikatakan Rendra. Bahagia karena
memilikimu di dalam hatiku. Dan sedih karena mencintaimu sama halnya merelakan
sebuah perpisahan yang entah kapan datangnya. Dan memang perpisahan itu
benar-benar terjadi Shinta. Dua puluh Mei sepuluh tahun yang lalu, di jari
manismu melingkar cintanya. Cinta Rama.
Namun
aku mengerti Shinta, jauh di lubuk hatimu masih kau bungkus rapi parsel
cintaku. Terbukti berkali-kali kau mendatangiku dalam mimpi. Setangkai bunga
kamboja dengan pita hitam yang melingkarinya. Kau masih sama, dengan rambutmu
yang tergerai dengan gaun merah, kala itu. Samar-samar sering kujumpai
permintaan untuk menengokmu. Nampaknya kau rindu padaku. Lalu kumantapkan pada
puncak niatku, aku akan mengunjungimu dan menunaikan kerinduanku.
Seperti
dendam, rindu juga harus dibayar sampai tuntas. Namun rasanya rindu dan dendam
dalam hatiku sudah mendidih pada titiknya, maka siang ini, aku mantap
menuntaskannya. Aku mendatangi rumahmu yang megah, berbekal pisau kecil yang
kusembunyikan pada karangan bunga. Hari ini rinduku harus tuntas.
Gambar tampilan Cerpen di Radar Surabaya
Aku
datang tepat pukul dua belas di arlojiku. Setelah turun dari taksi, aku masuk
melewati gerbang rumahmu yang memang tak pernah kau kunci. Kupencet bel
rumahmu—aku berharap kau yang membukanya untukku—, agak lama kau biarkan aku
membeku di depan pintu. Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki dari dalam, samar-samar
kuintip dari jendela rumahmu. Aku kenal orang itu. Pintupun terbuka, aku
berjalan mendekat dan menarik pisau yang kuselipkan pada karangan bunga. Lalu
kutusuk tepat di rongga perut kiri. Laki-laki itu mengeram kesakitan. Kutarik
lagi dan kupotong nadi yang ada di lehernya. Rama mati dalam sekejap. Darahnya
membanjiri ruang tamumu.
Anakmu
yang masih balita saat itu mendekat ke mayat Rama. Dia agaknya belum paham yang
dialami ayahnya. Pa-pa. Pa-pa. Dua kata itu terucap sambil berlari girang ke
arah Rama. Tiba-tiba kudengar teriakanmu dari ruang tengah, sambil berlari air
matamu banjir. Nampaknya kau begitu bahagia menyambut kedatanganku. Sudah lama
sekali Shinta, kita tidak bertemu.
“Ayah!
Apa yang kau lakukan pada Suamiku!”
Aku
agak kecewa, kala itu. Kau mengambil guci yang ada di sudut ruang tamu. Sambil
berlari kau lempar kepadaku. Apakah ini sambutan hangatmu, setelah sekian lama
kita tak temu. Aku spontan menghindar. Kau peluk anakmu, lalu kau lari lagi ke
ruang tengah.
Aku
yang masih ingin bertemu denganmu, mengikutimu. Kulihat kau mengunci anakmu di
kamarnya. Kau keluar dengan pisau dapur. Entah setan apa yang merasukimu
Shinta. Tiba-tiba kau ingin membunuhku. Padahal aku telah membebaskan cinta
kita. Rama sudah tiada. Sekarang kau milikku seutuhnya.
Namun
nampaknya setan merasuk lebih dalam ke relung jiwamu. Dua kali sabatan pisaumu
mengenai pipi dan lenganku. Aku berusaha menyadarkanmu, bahwa kita seharusnya
bergembira. Kitalah yang memiliki dunia.
“Kau
gila, Rah! Kau gila!” sabatanmu membabi-buta memecah segala yang ada.
Ruang
tengahmu berantakan. Piring kau lempar. Guci kau lempar. Bahkan kau coba
melempar TV mu. Namun nampaknya kesedihanmu, melemahkanmu. Tapi, tapi kenapa
kau harus sedih Shinta. Nampaknya aku harus mendapat jawaban darimu. Kudekati
tubuhmu dengan berlari. Lalu kupukul tengkukmu. Kau pingsan seketika.
“Kau
gila, Rah! Kenapa kau lakukan ini padaku?” isakmu kala itu. Sengaja aku ikat
tanganmu agar kau mau berbicara denganku. Bukankah, kita saling mencintai,
tanyaku padamu.
Air
matamu kembali merembes. Matamu sembab, seperti sepuluh tahun yang lalu. Tak
ada kata maaf atau terima kasih darimu. Hanya cacian dan omong kosong tentang
cintamu dengan Rama. Tentang Arjuna buah hati kalian. Atau tentang mitos
keabadian cinta Rama-Shinta. Diam! Teriakku. Aku muak. Aku muak, mendengar
celotehmu Shinta. Lalu kutusukkan pisauku ke rongga perutmu. Hujan turun dari
sudut matamu.
“Biadab,
kau Rah! Inikah bentuk cintamu padaku?” kau mengisak menahan lukamu.
Lalu
kubopong tubuhmu yang berlumuran darah menuju loteng rumahmu. Ada sedikit
senyum tertambat di bibirmu. Barangkali kita bisa menikmati senja bersama lagi
Shinta.
“Aku
mencintai Rama. Karena aku setia padanya. Jadi inikah tendesi cintamu, Rah?”
kau masih mengisak, dengan tubuhmu yang terkulai. Matamu sembab.
“Tapi,
terima kasih, Rah. Karena sudah mengabadikan cintaku padanya.” Suaramu
terpotong, nafasmu yang telah hilang.
Ya,
Shinta, harus kuakui. Mencintaimu adalah bahagia dan sedih. Bahagia karena
memilikimu di dalam hatiku. Dan sedih karena cinta kita tak pernah bersatu. Aku
mengakhiri nyawamu bukan karena aku membencimu. Namun aku takut, ada yang
memilikimu lagi, selain aku.
Dan
akhirnya tubuhmu kubopong untuk menikmati senja terakhir kita. Aku sadar,
mencintai adalah tentang kerelaan. Dan memang ada cinta darimu yang kau
titipkan padaku. Aku sadar, ketika tangisan anakmu mulai memanggilku dari
kamarnya.
***
Ditulis
dengan penuh kerelaan, untuk yang mencintai dalam kenangan.
Surakarta,
Juni 2015
Sapta
Arif
Cerita pendek tersiar di Radar Surabaya edisi Minggu, 1 Oktober 2017

0 Comments:
Posting Komentar