• Bahasa Inggris Berbasis Literasi


    Mempelajari
    bahasa asing membutuhkan proses yang menuntut dedikasi. Selain itu, frekuensi
    berlatih menjadi kunci penentu keberhasilan. Istilah literasi berasal dari kata
    literacy yang artinya melek huruf (Echols
    dan Shadily, 1995: 361). Secara sederhana, literasi seringkali diterjemahkan
    lurus menjadi Calistung, Baca-Tulis-Hitung. Namun persoalannya, apakah ‘melek
    huruf’ berarti sekedar hanya bisa membaca menulis dan menghitung (calistung)? Secara
    komprehensif ‘melek huruf’ sebenarnya mencakup mengidentifikasi, mengerti,
    menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari bahan-bahan
    cetak dan tulisan. Istilah literasi dimaknai secara luas sebagai kemampuan
    seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan
    pengetahuan, sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat.





    Literasi
    bahasa dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis seseorang pada tingkat
    minimal yang digunakan sebagai alat komunikasi sehingga  ide-idenya dapat dikomunikasikan dan dipahami
    dalam suatu masyarakat yang literate.
    Pengajaran bahasa Inggris juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan
    berbahasa yang menjadikan siswa mandiri sepanjang hayat, kreatif, dan mampu
    memecahkan masalah menggunakan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Oleh karena itu,
    pengajaran bahasa Inggris difokuskan pada kompetensi wacana atau teks (discourse competence) dengan asumsi
    bahwa dalam berkomunikasi orang menciptakan wacana, baik secara lisan maupun
    tulis. Dengan kata lain, tugas guru bahasa adalah mengembangkan kemampuan siswa
    untuk berkomunikasi. Pengajaran bahasa Inggris harus menekankan pada pentingnya
    penggunaan bahasa secara wajar dan otentik guna mengembangkan life skills, yaitu mampu melayani
    kebutuhan siswa sebagai anggota masyarakat.





     Dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris
    berbasis literasi, terdapat terdapat empat tingkatan literasi yang harus
    digarisbawahi yaitu: Performative Level;
    sekedar mampu membaca dan menulis, Functional
    Level
    ; kemampuan menggunakan bahasa untuk keperluan hidup (skill for survival), Informational Level; kemampuan mengakses
    pengetahuan dalam bahasa Inggris, dan Epistemic
    Level
    ; kemampuan mentransformasi pengetahuan dalam bahasa Inggris. Penekanan
    pada masing-masing tingkatan tersebut adalah prinsip literasi siklus lisan ke
    tulisan. Artinya keterampilan berkomunikasi lisan merupakan prasyarat untuk
    membangun keterampilan komunikasi tulis. Untuk menjamin agar ragam lisan tidak
    mudah dilupakan, setiap unit pengajaran wacana atau teks disusun menjadi empat
    tahap dan dua siklus yang dikenal dengan model Four Steps Two Cycles. Model pembelajaran bahasa Inggris yang
    dikembangkan guna menciptakan pengalaman belajar yang berangkat dari siklus
    lisan ke siklus tulis; yang dalam masing-masing siklusnya memiliki empat
    tahapan. Empat tahapan tersebut meliputi: 
    (1) Building Knowledge of Text
    dimana guru memperkenalkan topik yang akan dipelajari, konteks budaya, kosa
    kata, tata bahasa; (2) Modelling of Text
    adalah tahap pengenalan teks lisan ataupun tulis kepada siswa, (3) Joint Construction of Text menciptakan
    kolaborasi antar siswa yang menghasilkan teks sebagai hasil kerja sama, dan (4)
    Independent Construction of Text,
    siswa diharapkan mampu melakukan percakapan atau monolog dan mampu menulis teks
    sesuai dengan genre yang dipelajari. Walaupun secara garis besar proses belajar
    mengajar digambarkan dalam empat tahapan, dalam prakteknya proses tersebut dilalui
    dua kali. Artinya, siklus pertama difokuskan pada bahasa lisan dan siklus kedua
    difokuskan pada bahasa tulis.





    Pembelajaran
    bahasa Inggris berbasis literasi terfokus pada kompetensi berwacana (discourse competence) yang merupakan
    sentral sedangkan kompetensi lainnya dianggap sebagai kompetensi penunjang.
    Berwacana berarti memroduksi teks yang spesifik untuk konteks tertentu. Kompetensi
    dibahasakan sangat spesifik dengan menyebutkan tindak bahasa (speech act). Tindak bahasa sebagai titik
    berangkat sehingga polanya adalah let's
    do something with language
    . Dengan pola ini, tujuan pembelajaran akan lebih
    aktif. Pencapaian kompetensi dinyatakan dalam tindak bahasa, sedangkan bahan
    ajarnya dapat dicari sendiri. Teknik dan metodenya pun diserahkan kepada guru.
    Dengan demikian, tidak membongkar-pasang kurikulum, tetapi lebih memperkaya
    pemahaman tentang kompetensi berbahasa, memformulasi tujuan pembelajaran, dan
    memilih jenis teks secara lebih spesifik.





    Membekali siswa dengan kompetensi berbahasa Inggris agar dapat berpartisipasi dalam masyarakat modern telah merupakan kebutuhan. Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah seharusnya benar-benar mengaplikasikan pendekatan mengajar berbasis literasi, yang menekankan penggunaan bahasa secara wajar dan otentik guna mengembangkan life skills. Pendekatan semacam ini mendorong kemampuan siswa dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. This is the real education should be: menghasilkan ‘manusia’, dan bukan mencetak mesin-mesin berbentuk manusia yang hanya bisa mencapai skor TOEFL 500 tanpa bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut.





    Penulis: Rifa Suci Wulandari, M.Pd.
    Dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo

    *Artikel telah dimuat Jawa Pos Radar Ponorogo, Edisi November 2016.


  • 0 Comments:

    Posting Komentar