Oleh: Sri Wahyuni
Membaca
ngRong, kita segera teringat ungkapan
Albert Einstein, “Logika membawamu dari A ke B. Imajinasi bisa membawamu kemana
saja”. Sebuah novel yang membawa kita mengembara dari satu imajinasi ke
imajinasi lain. Sulit diduga dan penuh kejutan. Saat membacanya, kita seperti dibawa berselancar
dalam laut imajinasi,
kadang tercebur ke laut dalam dan megap-megap karena tak mampu berenang, muncul
ke permukaan sejenak lalu kita akan ditarik lagi ke dalam.
Sebagai
sastrawan S.Jai berhasil menyajikan realita kehidupan manusia yang penuh
masalah, dipadukan
dengan imajinasi untuk menarik pembaca masuk dalam kisah yang dibuatnya. Sebagaimana
salah satu subbab yang ditulisnya “Hidup adalah sekumpulan masalah dan sederet
gairah” (hal. 85). Ungkapan itu kemudian menjadi jantung dan nadi novel.
Randu,
laki-laki yang tak pernah dipedulikan isterinya. Hidupnya terus digencar
perasaan jengah, nyaris cutel itu membuatnya meminggirkan diri ke jalan
pelarian. Ia memilih jalan pengasingan diri. Bertahun lamanya Randu bersembunyi
bagaikan seekor orong-orong, binatang yang berumah di dalam tanah (ngrong). Lalu ia
akan mengintip ke luar dengan separuh kepalanya ke permukaan tanah, untuk
menyaksikan segala keanehan dunia. Sampai kemudian ia bersua dengan penyair
pesisir Dewi Mus dan kekasih
masa silamnya, Ratih Keswari. Bermula perjamuannya dengan Ratih di
sebuah kafe, Randu mabuk puisi dan keindahan Ratih. Dalam pengasingannya, Randu
menemukan rumah dalam diri Ratih dan dalam kata-kata. Randu boyongan dari
isterinya yang merajalela dan membongkar bangunan yang selama ini didiami
bersama. “Bagiku kau tak lain keterasinganku, tujuanku saat aku menghilangkan
diriku. Kau seperti cermin bagiku sebagaimana aku cermin bagimu.” (hal. 377).
Novel ini dengan halus juga mengajarkan romantisme dalam cinta melalui tokoh Randu, laki-laki beristeri yang selalu berpikir tentang keanehan-keanehan dirinya dan Ratih Keswari seorang perempuan penyair, kekasih kata-kata. Mereka berpisah 23 tahun lalu karena masalah dan dipertemukan kembali dengan masalah yang baru pula, sama-sama telah berkeluarga.
Randu
dengan kelembutan pribadinya, kesantunan dalam berbicara, dan kepandaiannya
dalam berkata membuat Ratih jatuh hati. Sementara kecerdasan Ratih Keswari
adalah potret perempuan romantis dengan lompatan imajinasi yang hebat.
Kecerdikannya dalam berucap dan kekuatannya dalam mengingat. Setelah 23 tahun
berpisah, Ratih mampu mengingat semua hal tentang Randu. Kebiasaan, tempat
favorit, makanan, minuman, dan lainnya. Randu dan Ratih sama-sama memiliki
kecerdasan imajinasi. Bayangkan bila keduanya saling bertemu.
Jika Anda laki-laki maka akan tenggelam dalam lautan
imajinasi yang diciptakan Ratih. Jika Anda perempuan maka akan menggali
pelajaran tentang romantisme yang tak pernah habis darinya.
***
Embrio
kekuatan novel ini terletak pada upaya S.jai menyelipkan beberapa peristiwa
sejarah dalam rentetan kisah yang diperankan tokoh-tokoh ciptaanya. Menarik dan
tidak membosankan. Ia mengajak pembaca untuk mengembara menengok masa silam
melalui jalan keindahan, jalan imajinasi. Sebuah pengembaraan imajinasi yang
mengesankan.
Dari rentetan
kisah-kisah itu, pembaca mulai disedot untuk mengetahui lebih dalam tentang
kisah-kisah masa silam. Mulai dari lakon
ketoprak Ranggalawe, kisah seekor
orong-orong dengan Sunan Kalijaga, sejarah tentang Sunan Giri, hingga sederet panjang sejarah perlawanan umat
Islam untuk kemerdekaan.
Penulis juga
menyinggung beberapa karya sastra terdahulu untuk menguatkan cerita yang dibuatnya, mulai dari naskah drama hingga novel. Seperti naskah
drama RE karya Akhudiat, novel Kepada Apakah karya Afrizal Malna,
novel Metamorfosis
karya Frans Kafka, Belenggu karya
Armijn Pane, dan Kotbah di Atas Bukit
karya Kuntowijoyo. Membaca
ngRong buah tangan S.Jai ini kita
seperti membaca karya-karya di atas.
Dengan demikian, novel ini pada hakikatnya adalah pengembaraan menuju masa silam lewat pintu imajinasi. Pengembaraan imajinasi dari satu kisah ke kisah lainnya, dari karya sastra satu menuju karya sastra lainnya. Lompatan imajinasi yang mengesankan. Sebagaimana ungkapan Einstein yang dikutip pada awal tulisan ini “imajinasi bisa membawa kita kemana saja”. Membaca novel ngRong, sebuah novel S.Jai dengan pintu imajinasi yang indah akan membawa pembaca mengembara kemana saja.
***
Judul : ngRong, sebuah novel
Penulis : S.Jai
Penerbit : Pagan Press
Tahun terbit : Maret 2019
Tebal buku : xiv + 388 halaman
ISBN : 976-602-5934-43-8
Sri Wahyuni, tim Sekolah Literasi Gratis (SLG) 2 STKIP PGRI Ponorogo.
Sumber: https://www.kompasiana.com/favorite/5dc8c7f6097f3618bb431c82/pengembaraan-imajinasi-yang-mengesankan
[…] Sri Wahyuni, tim Sekolah Literasi Gratis (SLG) 2 STKIP PGRI […]
BalasHapus