Semua orang
tentu pernah berdoa. Bahkan, ada orang yang keranjingan dengan kegiatan yang
bernama berdoa. Berdoa adalah kegiatan
rutin manusia yang merasa lemah dihadapan-Nya. Mereka selalu ingin
mendekati-Nya. Mereka mengejar-ngejar-Nya. Mereka ingin menggauli dan bergumul
dengan-Nya, bahkan mereka ingin menyatukan dirinya dengan-Nya. Oleh karenanya, “jangan-jangan
Tuhan ada di bola” seloroh budayawan kita, Sindhunata, sewaktu manusia
terhipnotis bola dalam perhelatan piala dunia. Karena, pada waktu itu semua
mata dipenjuru dunia memperhatikan bola yang dimainkan oleh bintang-bintang
sepak bola dunia.
Jikalau Tuhannya
harta, berdolah ia dihadapannya dan berusaha untuk mengumpulkannya. Jikalau
Tuhannya tahta, berdoalah ia di hadapannya dan berusaha meraihnya. Jikalau
Tuhannya wanita, berdoalah ia di hadapnya seraya memuja. Jikalau Tuhannya iblis,
berdoalah ia di hadapannya dan berkoloni denganya. Jikalau Tuhannya kemewahan
dunia, berdoalah ia di hadapannya dan berusaha hidup selamanya. Jikalau Tuhannya
perdamain, berdoalah ia di hadapannya dan berupaya untuk menciptakannya.
Jikalau Tuhannya cinta, berdoalah ia di
hadapnya dan terus-menerus mewujudkannya. Jikalau Tuhannya Allah, ia berdoa
dihadapan Allah dan berjanji mematuhi perintah-Nya.
Ada sejumlah orang
yang suka berdoa, waktunya dihabiskan untuk berdoa. Siang-malam, pagi-sore
berdoa, tiada hari tanpa doa, tiada waktu tanpa doa, bahkan tiada detik tanpa
doa. Tampaknya, mereka hoby berdoa
kalau tidak bisa dibilang pekerjaannya berdoa. Mengapa ia suka melakukannya?
Memang, berdoa pekerjaan yang tak membutuhkan ini dan itu. Ia sangat gampang
dilakukan. Tidak perlu cucuran dan peluh keringat.
Meski demikian,
tampaknya, berdoa juga mengenal musim dan
menjadi barang pesanan. Pada musim haji, tetangga saya yang akan
menunaikan rukun Islam kelima banjir pesanan doa. Sanak saudara, para tetangga,
dan handai taulan semua berkunjung ke rumahnya. Tidak satu pun yang tidak titip doa untuk disampaikan kepada-Nya. Mereka
titip minta ini dan itu, terkait dengan segala problem hidupnya. Mungkin, mereka
berprasangka saat musim haji Tuhan berada di Makkah Al Mukaromah, tepatnya di dalam
ka’bah.
Melihat
aktivitas tetangga menjelang
keberangkatannya, saya teringat sajak Hamid Jabbar berjudul “Doa Terakhir Seorang
Musyafir”. Puisi itu hanya berisi satu larik yang terdiri atas satu kata yakni
/Amin/. Judul yang terdiri atas empat
kata itu ditulis di halaman bagian atas, sementara isi puisinya yang cuma satu
kata itu ditaruh di lembar bagian bawah.
Oleh karenanya, bagian tengah lembar puisi itu kosong mlompong, putih bersih
tanpa ada coretan apa pun. Putih bersih bagai fitrah manusia yang baru lahir.
Mengapa dalam
puisi Hamid Jabbar itu seorang musyafir hanya berdoa dengan satu kata “amin”? Apakah
harapan seseorang yang menjalankan ritual berdoa, kalau bukan semua permohonannya
dikabulkan oleh-Nya. Mengapa Hamid Jabbar menyuguhkan ruang kosong dalam
sajaknya? Bukankah Tuhan mahademokratis? Oleh karenanya, dalam urusan doa
tampak bahwa Tuhan menyerahkan sepenuhnya
kepada umatnya. Tuhan membebaskan umat manusia dalam berdoa. Tuhan tidak
memandang baju mereka. Tuhan tidak melihat kulit mereka. Tuhan tidak
tahu-menahu keturunan mereka. Tuhan tidak acuh dengan bangsa mereka. Tuhan
tidak peduli partai mereka. Yang penting kita berdoa Tuhanlah yang membijinya.
Bukankah umat
manusia boleh berdoa kapan saja? Bukankah Tuhan tak terhalang oleh sang waktu?
Bukankah umat manusia boleh berdoa di mana saja? Bukankah Tuhan ada di
mana-mana? Bukankah umat manusia bebas berdoa menggunakan bahasa yang
disukainya? Bukankah Tuhan mahapandai berbahasa? Bukankah Tuhan maha
segala-galanya? Sudahlah, silakan berdoa kalau Anda ingin berdoa!
Yang penting jangan terjebak pada seloroh penulis berbakat yang fokus pada serial diskusi persoalan tasawuf modern, yakni Agus Mustofa, yang tertuang pada sampul buku Berdoa ataukah Menyuruh Tuhan (2009). Judul buku nyentrik nan seksi itu membuat dahi agak berkerut sambil domblong sejenak. Mengapa tidak, karena begitu melihat sampulnya mesti berhenti meski sebentar pada tulisan “he..he..he… Lha wong Tuhan kok disuruh-suruh….”.
Penulis: Dr. Kasnadi, M.Pd (Dosen dan Ketua Tim Pengembang STKIP PGRI Ponorogo)
*Artikel terkait pernah dipublikasi Jawa Pos Radar Ponorogo, Edisi Juli 2017.
0 Comments:
Posting Komentar