PONOROGO- Menghadapi perkembangan dan persaingan global yang ketat. Alumni perguruan tinggi diwajibkan memiliki kemampuan beberapa bidang. Tidak saja fokus satu bidang ilmu, tetapi keterampilan yang dibutuhkan di era sekarang.
Berbagai keterampilan itulah yang dimiliki alumni
STKIP PGRI Ponorogo. Heru Setyo Utomo misalnya, alumni Pendidikan Bahasa
Inggris itu sukses mengembangkan usaha di tanah perantauan. Tepatnya di
Samarinda Kalimantan Timur.
Kemarin, (3/10) bersama keluarga bersilahturahmi ke
kampus tercinta STKIP PGRI Ponorogo. Lelaki kelahiran Slahung itu mengaku rindu
suasana kampus. Tidak heran, datang secara mendadak tanpa komunikasi dengan
bapak/ibu dosen terlebih dahulu.
“Ia beberapa hari lalu inbokan dengan saya. Tetapi,
tidak menduga kalau sudah di Ponorogo. Tahu-tahu datang di kampus,” pungkas Dr.
Sutejo, M.Hum selaku ketua STKIP PGRI Ponorogo.
Sutejo yang selalu dekat dengan mahasiswa tahu betul tentang Heru. Pihaknya merasa bangga akan capian sekarang. Mahasiswa yang dahulu berjumpa di ruang kuliah, selalu aktif berorganisasi, dan terkenal memiliki mental kuat. Kini menjadi seorang pengusaha yang sukses.
“Dahulu angkatannya terkenal cerdas dan mandiri,”
kenang Sutejo saat berbicang bersama Heru di ruangannya.

Heru mengaku untuk menjadi pengusaha butuh
perjuangan keras dan bermental tinggi. Tahun 2011 menjadi titik awal ia meniti
karier. Bersama sang istri memutuskan merantau jauh dari orang-orang tersayang.
Keputusan merantau terbilang berat. Sebab harus meninggalkan usaha yang
dirintis di daerahnya.
Ia juga menyadari membuka usaha baru membutuhkan
perjuangan tak mudah. Terbukti, awal di Samarinda binggung harus berjualan apa.
Sempat jualan es waktu bulan ramadhan, namun berjalan selama satu bulan.
Ramadhan selesai jualan kembali sepi.
Pengalaman semasa di bangku perkuliahan dan
kecerdasan membaca peluang menjadi pembeda. Samarinda dengan perekoniman yang
maju. Konsumsi masyarakat juga semakin tinggi. Lantas, Heru membuka usaha rumah
makan, warung gorengan, dan rumah makan nasi goreng.
“Ada satu usaha yang tidak saya tinggalkan dari awal
mas. Es Dawet,” Pungkas Ike sang Istri.
Es Dawet merupakan rintisan usaha yang dilakukan di
tanah perantauan. Seakan ingin mengenang akan sejarah perjuangan masa-masa
sulit.
Ditanya soal resep khusus, ia mengaku selalu menjaga pelayanan yang prima dan sopan kepada siapun. Pernah berjumpa dengan pembeli. Pakaian biasa seperti kebanyaakan orang. Tanpa disangka pembeli itu kepala kejaksaan negeri.
Berkat usaha itu sekarang memiliki karyawan khusus.
Karyawan yang dipilih bukan yang berkualias atau berpengalaman. Melainkan yang
masih menunggu kerja atau baru lulus sekolah. “Prinsip saya memberdayakan orang
lain. Memiliki keterampilan apapun saya tampung,” pungkasnya sore itu.
Menariknya, ia tidak mengekang karyawan untuk tetap
bersamanya. Diberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan
keterampilan. Kalau ada kesempatan lebih
baik dipersilahkan untuk mengambilnya, ceritanya.
Heru Setyo Utomo satu dari sekian alumni yang
sukses. Prinsip-prinsi hidup yang diperoleh semasa kuliah menjadi bekal
perjalanan kariernya. Juga menjadi bukti
alumni STKIP PGRI Ponorogo memiliki berbagai keterampilan, baik dalam bidang
akademik maupun non-akademik. Red/Ags (Humas)
0 Comments:
Posting Komentar