Konon jauh sebelum kita dilahirkan, ada dua malaikat yang diutus Tuhan ke bumi. Menjelma manusia yang utuh dengan akal dan nafsu. Kedua malaikat itu mengabdi di sebuah kerajaan yang sebenarnya rakyatnya begitu makmur. Namun Sang Raja memiliki kebiasaan yang sangat jahat dan kejam. Ia dikenal dengan nama Raja Shahriar. Setiap hari, Sang Raja memerintahkan orang kepercayaannya untuk membawa satu perempuan ke istana. Tentu yang dibawa bukanlah perempuan sembarang: haruslah berparas cantik dan bertubuh seksi. Kemudian perempuan itu akan diajak bercinta di bawah siraman kerlap-kerlip malam yang indah. Lalu begitu fajar tiba, perempuan ini akan dieksekusi mati begitu saja.
Kedua
malaikat itu berbagi peran. Yang satu menjelma sebagai Harut, seorang algojo kepercayaan
raja. Setiap fajar menjelang, Harut memiliki tugas khusus untuk membunuh setiap
perempuan yang baru saja tidur dengan Raja. Kemudian satunya sebagai Marut. Ia
seorang pencerita ulung yang hidup sebagai pujangga di tengah-tengah masyarakat
kerajaan itu. Marut dipercaya Raja untuk memilih dan membawa satu perempuan
setiap senja ke istana. Kemudian perempuan ini akan bercinta di bawah siraman
rembulan dan malam berbintang, lalu paginya akan dieksekusi mati oleh Harut.
Kedua
malaikat ini turun lantaran kekejaman Raja yang sudah melebihi batas. Kemudian
dengan kuasa Tuhan, ia menggantikan algojo dan sang pujangga sebelumnya. Dengan
akal yang dianugerahkan Tuhan, kedua malaikat ini menyusun rencana untuk menghentikan
polah raja yang melebihi binatang ini.
Barangkali
memang benar, cinta adalah jelmaan Tuhan yang dianugerahkan di setiap jiwa
manusia. Maka, jika seorang manusia telah hilang kepercayaan akan cinta, ia
akan hilang pula kepercayaan pada Tuhan. Bukankah Tuhan Maha Cinta? Inilah yang
menjadi alasan Raja Shahriar begitu tega membunuh setiap perempuan setelah
bercinta dengannya.
Sebenarnya
Raja Shahriar bukanlah orang yang sejahat itu. Ia sebelumnya adalah seorang
raja yang romantis dan penuh cinta. Lalu seorang perempuan yang begitu ia
cinta, meruntuhkan bangunan kepercayaannya. Ialah Adara, perempuan cantik dari
Persia. Konon kecantikannya melebihi kecantikan bidadari surga. Adara
dianugerahi mata yang indah. Mata yang bening dan seringkali memancarkan cahaya
magis bagi siapa saja yang melihatnya. Kemudian, bibirnya adalah keindahan
kedua yang bahkan bisa menyebabkan siapa saja begitu ingin menciumnya. Sepasang
bibir seksi yang bisa menggugah kejantanan pria. Dan suaranya yang lembut
adalah seruling yang bertiup dari surga ke tujuh. Maka tak heran, ketika Raja
Shahriar bertemu dengannya di sebuah perjamuan malam perayaan pergantian tahun,
luluhlah hatinya.
Kemudian
mereka menikah dengan perayaan yang sangat megah. Lalu Adara, lekas terlihat
watak serakahnya. Belum genap satu tahun menikah dengan Raja Shahriar,
perempuan Persia ini meminta dibuatkan bungalow yang megah. Bungalow pribadi
yang menghadap ke lautan. Menurutnya, Bungalow ini adalah simbol keagungan
kecantikannya yang tak terkira. Hal ini memang benar adanya. Semua orang tentu
sepakat bahwa kecantikan Adara melebihi bidadari Surga. Maka, untuk membuktikan
cintanya, Sang Raja mengabulkan permintaan istrinya itu.
Hingga
pada suatu sore yang tak diinginkan, Sang Raja memergoki istrinya berselingkuh
di Bungalow megah itu. Sebuah Bungalow yang seharusnya menjadi perwujudan cinta
Sang Raja, kini menjadi tempat eksekusi perempuan-perempuan malang korban
kekejaman Raja Shahriar. Di Bungalow megah yang menghadap laut ini pula, Adara
dan lelaki biadab selingkuhannya dibunuh, lalu mayatnya dibuang ke laut. Sejak
saat itu, Raja Shahriar berpikir bahwa tidak ada perempuan yang setia. Ia
bersumpah sambil menghadap matahari senja, bahwa cinta adalah kebohongan
pertama yang diciptakan Tuhan. Oleh sebabnya, untuk menuntaskan dendamnya yang
tak berkesudahan itu, setiap sore, ia menyuruh pengawal kepercayaan untuk
membawakan perempuan baru untuk diajak bercinta. Kemudian ketika Fajar tiba,
perempuan malang itu akan dieksekusi di Bungalow megah itu dan mayatnya akan
dibuang ke laut.
Di
suatu sore, Harut dan Marut telah sepakat untuk menghentikan kekejaman Raja
Shahriar. Marut membawa seorang perempuan yang cantik jelita. Ia bernama Scheherazade.
Selain dianugerahi mata yang indah dan lesung pipit yang begitu manis,
Scheherazade adalah perempuan yang cerdas. Ia menghabiskan waktunya setiap hari
di perpustakaan pusat Kota Baghdad. Lantaran kecerdasannya ini pula, Marut
menjatuhkan pilihannya. Rencananya cukup sederhana. Layani Sang Raja sebaik
mungkin. Kemudian buat ia terlena dengan bujuk rayu Scheherazade setelah
bercinta. Setelah Sang Raja kejam itu terlena, Scheherazade diperintahkan untuk
membunuh Raja Shahriar dengan menuangkan racun di minumannya.
Malam
datang. Lalu Sang Raja memanggil Marut untuk membawa perempuan baru ke Bungalow
megahnya. Dengan langkah pongah, serta wajah penuh dendam, Raja Shahriar masuk
ke kamar. Di ranjang berangka emas dan berselambu sutera itu, Scheherazade
telah bersiap memakai pakaian serba biru. Di keheningan malam, di bawah siraman
kerlap-kerlip langit yang indah, mereka bercinta. Lalu di luar kamar, seperti
hari-hari sebelumnya, Harut sudah bersiap membawa kapak besar.
![]() |
| Tampilan Cerpen Sapta Arif dimuat di Medan Pos edisi 20 Desember 2020 |
Namun
malam ini adalah malam yang berbeda bagi Harut. Jika perempuan ini gagal,
pikirnya, ia akan mengayunkan kapak besarnya ini ke kepala Raja kurang ajar
itu. Harut membunuh waktu dengan begitu gelisah. Ia paham betul, orang pertama
yang akan keluar dari balik pintu besar berlapis emas itu adalah pemenang dalam
pertempuran malam ini. Jika Scheherazade yang keluar, sudah pasti misinya
berhasil. Dan Raja kejam itu pasti sudah terkapar keracunan. Namun jika yang
keluar adalah Rajanya, sudah tentu kapaknya yang harus pertama kali berbicara.
Berjam-jam
Harut menunggu. Berjam-jam pula ia menakar langkahnya begitu pintu berlapis
emas itu terbuka. Hingga kerlip cahaya di ufuk timur telah lahir. Namun belum
juga pintu itu terbuka. Ini lebih lama dari biasanya, gumamnya. Kemudian
fajar lahir dengan sempurna. Air laut telah berkilat-kilat memancarkan cahaya
pagi. Dan pintu besar berlapis emas itu belum juga terbuka. Namun tak lama
setelahnya, suara berderet lahir dari dalam kamar. Harut mengambil
ancang-ancang, berjaga jika Raja kejam itu yang keluar lebih dahulu.
Benar
saja, langkah pertama yang muncul dari balik pintu bukanlah kaki mungil
Scheherazade. Kemudian Harut berjalan ke arah pintu, ia berupaya tidak melihat
wajah menjijikkan Rajanya itu. Di tangan kanan algojo itu, kapaknya telah siap
diayunkan. Namun belum genap ia sampai dan belum juga ia ayunkan kapak
besarnya, ia berhenti dan terdiam seketika oleh ucapan pertama Sang Raja. Jangan
kau bunuh perempuan ini, bawa ia kembali besok sore, ucapnya ketus dengan
wajah yang terlihat kebingungan bercampur heran. Sudah tidak karuan sebenarnya
raut wajah Sang Raja. Apakah puas, kecewa, atau bingung, Harut tidak bisa
membacanya.
Harut
pun diam seribu bahasa melihat punggung Raja Shahriar meninggalkannya. Tidak
lama kemudian Scheherazade keluar dengan senyum kemenangan yang justru menciptakan
tanda tanya besar di kelapa Harut. Sttssstttt…. Tidak usah berkata apa-apa,
apalagi menanyakan apakah racun itu sudah kutuangkan ke minumannya, percayalah
padaku, ucap perempuan itu sambil telunjuknya ia rapatkan ke bibir Harut.
“Tunggu!
Tapi apa yang….”
“Ssttttssstt…
Tuhan selalu punya cara untuk menumbuhkan cinta kan?”
Keesokan
harinya, disusul hari-hari berikutnya. Kejadian itu berulang. Harut dibuat
cemas menunggu orang pertama yang keluar dari pintu berlapis emas itu. Dan
selalu, Raja Shahriar yang keluar pertama dengan raut wajah yang begitu tak
karuan. . Jangan kau bunuh perempuan ini, bawa ia kembali besok sore, ucapnya
lagi dan lagi. Dan jawaban Scheherazade, selalu sama: Ssttttssstt… Tuhan selalu
punya cara untuk menumbuhkan cinta kan? Sambil merapatkan telunjuknya ke bibir
Harut pula.
Kejadian
ajaib itu, Harut ceritakan pada Marut, dan hasilnya sama: menimbulkan
pertanyaan yang besar di kepala mereka berdua. Hingga akhirnya, malam-malam
seterusnya pun begitu. Scheherazade menunggu di kamar, Raja masuk,
—mungkin—mereka bercinta, kemudian malam menjadi ladang gelisah di dada Harut,
lalu Raja keluar, dan Scheherazade masih baik-baik saja bahkan tersenyum manis
penuh kemenangan.
Hari
silih berganti, bulan terbit dan tenggelam, tahun pun lahir dan berjalan. Kejadian
itu berulang hingga beratus malam yang tak terhitung jumlahnya. Hingga akhirnya
Raja Shahriar menikah dengan Scheherazade dan dianugerahi tiga orang anak. Di
hari menjelang pernikahan itu, Harut dan Marut kembali menanyakan sesuatu yang
mengganjal di pikiran mereka. Mereka tak menyangka sebenarnya, Raja yang
terkenal kejam itu, bisa luluh pada seorang perempuan. Tentu setelah melewati
ratusan hari yang begitu kelam. Akhirnya Scheherazade bercerita pada Harut dan
Marut tentang apa yang mereka lakukan di kamar.
“Setiap
malam, setelah kami bercinta, aku selalu bercerita pada Raja Shahriar. Namun
cerita itu tidak pernah menemui akhir, kemudian Raja bertanya ‘Tunggu!
Bagaimana akhir ceritanya?’ Akupun tersenyum sambil merekatkan bibirku ke
bibirnya, aku berbisik, tunggu saja besok malam, akan kuceritakan kelanjutannya
untukmu Yang Mulia. Begitulah seterusnya. Aku selalu membawa cerita baru saban
malam, tentu saja pakaianku pun kusesuaikan dengan suasana cerita yang akan
kubawakan.”
Sambil
menggaruk-garuk kepala, Harut mengangguk ragu. Berbeda dengan Marut yang
tersenyum, kemudian membalas, maaf nona Scheherazade, bolehkah saya tulis
setiap cerita yang Nona bacakan pada Raja? Scheherazade tersenyum mengiyakan.
Begitulah
awal mulanya. Kelak cerita yang ditulis oleh Marut, kemudian kita kenal dengan
cerita 1.001 malam dari negeri Arabia dengan siraman bulan dan kerlap-kerlip
bintang indahnya. Dan sekali lagi, cinta adalah jelmaan Tuhan yang
dianugerahkan di setiap jiwa manusia. Dengan cintalah, kekejaman Raja Shahriar
berakhir. Lalu Harut pun berpindah ke negeri lain, kembali mengemban misi baru
dari Tuhan. Dan Marut menyelesaikan kitab 1.001 malam yang kita kenal hingga
sekarang.
***
Oktober
yang basah di Kota Reyog
SAPTA ARIF NUR WAHYUDIN. Penulis adalah Kepala Humas STKIP PGRI Ponorogo. Bisa disapa
melalui akun IG: @saptaarif atau @keluargaliterasi_

0 Comments:
Posting Komentar