• CANDRAMAWA [Cerpen Sapta Arif]





    Nun dari tempat yang sangat jauh, seorang perempuan tua berjalan tergopoh-gopoh. Langkahnya yang tergesa membuat dua ember air yang dibawanya terbuang sedikit demi sedikit dengan percuma. Namun tak pernah sedikitpun terlintas kesia-siaan di benaknya, ketika dengan langkah yang sungguh susah payah, dia berhasil pulang ke desanya. Desa yang begitu kering dihantam kemarau dalam waktu yang sudah tidak bisa diperkirakan lamanya. Sungai-sungai kering, bahan makanan tak ada, uangpun tak ada gunanya. Berkali-kali mereka mengirim surat ke pusat pemerintahan, namun tak ada tanda-tanda pertolongan akan datang. Warga lekas berpindah, mengungsi ke desa lain yang lebih bisa menjanjikan kehidupan. Hingga tersisa lima rumah tangga yang seluruhnya berusia tua, bahkan salah satu rumah di antaranya sudah dirundung duka. Lantaran seorang kakek tua terserang penyakit yang tidak ada obatnya.
    Sebenarnya desa itu bukanlah desa di tengah gurun seperti yang dibayangkan orang-orang ketika mendengar cerita beradegan kemarau panjang. Desa itu terletak di kaki bukit yang seharusnya memiliki air yang melimpah. Desa yang seharusnya memiliki kebun-kebun yang hijau berjejer di sepanjang jalan. Yang ketika di pagi buta warganya sudah bangun menembus embun pagi untuk bercocok tanam atau mengecek ternak mereka yang dijaga dari binatang buas. Lalu ketika senja tiba orang-orang akan berlalu lalang, sebagian membawa hasil kebun mereka, sebagian lagi pulang usai mandi dan mencuci baju di sungai. Desa yang seharusnya ketika malam ramai oleh anak bermain petak umpet di bawah siraman bulan, lalu ketika tengah malam tiba, pos ronda menjadi pusat keramaian para peronda. Desa yang seharusnya memberikan kebahagiaan kepada siapapun yang datang mampir, bisa menyediakan gubug sejuk untuk makan atau sekedar air minum.
    Namun yang terjadi justru sebaliknya, desa yang digambarkan sebagai jelmaan neraka di dunia ini, sangat kering. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Berbagai tanaman tumbuh meranggas, dengan duri-duri tajam dan tubuh yang kering. Tanpa daun. Tak ada ternak yang bisa hidup lebih dari satu purnama. Bahkan warganya perlahan-lahan memilih pindah ke desa di balik bukit. Hanya mereka yang benar-benar mencintai dan mengupayakan kelestarian adat desa yang bisa bertahan—dengan air yang diambil setelah berjalan seharian dan makanan yang hanya bisa dikonsumsi dua hari sekali. Sungguh neraka yang terlahir di dunia.
    Keadaan itulah yang membawa nenek Ribut berjalan seharian demi dua ember air yang akan digunakan oleh sembilan orang tua yang tersisa di desa itu—yang satu di antaranya sudah sakit parah. Nenek Ribut berjalan tergopoh-gopoh membelah udara panas siang itu. Sayup-sayup dari pandangannya sudah terlihat kakek Jaya—yang sudah berjalan bungkuk—menyambutnya di gapura desa.
    “Sabar Nyai, lihatlah, airmu tumpah semua.”
    “Sudah tidak diragukan lagi, aku melihatnya Ki!”
    “Siapa?”
    “Aku melihatnya, hanya mereka yang bisa menolong kita dan desa ini.” sambil menata napas dan membawa sisa air yang masing-masing tinggal setengah.
    “Siapa, Nyai?” dengan suara yang begitu lirih namun dengan penekanan yang sangat dalam.
    “Harut dan marut.”
    Agak lama mereka berpandangan dan terdiam. Tanpa ada kata-kata yang perlu diucapkan lagi, kakek Jaya berjalan dengan langkah tercepatnya, mendatangi rumah-rumah yang masih ada kehidupan. Kemudian mengundang mereka berkumpul sore ini, sebelum senja hilang.
    ***


    Sumber gambar: Solopos edisi Minggu 2 Desember 2018

    Konon jauh sebelum kita dilahirkan, ada dua malaikat yang diutus Tuhan ke bumi. Menjelma manusia yang utuh dengan akal dan nafsu, kemudian mengabdi di sebuah kerajaan yang tumbuh subur praktik sihirnya. Dua malaikat itu berinisiatif membasmi praktik sihir dengan cara dan upayanya masing-masing. Hingga pada satu waktu, iblis datang membawa syahwat yang tak bisa ditahan. Luruhlah kesuciannya. Di satu hari yang tak diduga, Jibril datang, kedua malaikat itu luruh hatinya. Menangis tersedu. Dengan ketakutan yang sudah di ubun-ubun kepala, mereka meminta pengampunan. Kemudian Tuhan mengekalkannya di Bumi hingga kiamat datang.  Hari silih berganti, bulan terbit dan tenggelam, hingga tahun-tahun jatuh-lahir bergantian. Orang-orang kini memburu kedua malaikat yang dikekalkan itu, untuk mencari rakhmat dan meminta pertolongan. Hingga pada satu waktu yang tak terduga, seorang perempuan yang sudah sangat tua menemukannya dalam keadaan kepala di bawah dan kaki terikat di atas.
    “Aku melihatnya, tepat ketika aku selesai menimba air di sumur itu!” nenek Ribut berhenti sejenak, dengan mata yang berkaca-kaca dan napas yang terengah-engah lantaran bahagianya. Berjeda agak lama, dia mulai berbicara lagi,
    “Aku yakin sekali, dia menginginkan kau datang padanya! Iya, kau Sarwidi!”
    Sekumpulan orang tua di depan pos ronda itu terdiam semua. Sejenak masing-masing dari mereka berusaha mencerna maksud dari perkataan Nenek Ribut. Dua orang yang perempuan tua itu anggap sebagai jelmaan malaikat menginginkan seorang tua yang bahkan untuk berjalan perlu dibantu orang lain datang sendirian menyusur bukit yang terjal. Sungguh hal yang tidak masuk akal bagi mereka.
    “Iya! Kau Sarwidi, lelaki yang selama ini ditunggu-tunggu oleh mereka, untuk membawa rakhmat ke desa kita ini.” perempuan tua itu berbicara sambil menahan haru.
    Sekumpulan orang tua di depan pos ronda itu mendadak mendengung. Mereka berbisik satu sama lain, seolah tak percaya. Namun tiba-tiba dengan langkah yang tak kokoh, seorang lelaki tua mencoba berdiri: Diamlah! Jika aku yang mereka inginkan datang, aku akan berangkat mendahului fajar esok hari. Sambil terbatuk dengan suara serak namun begitu berat dan mengesankan tegasnya.
    Sekumpulan tua yang lain pun mengangguk, bukan sepakat, namun lebih pada sebuah kepasrahan lantaran otak mereka sudah terlalu bebal untuk mencari jalan terbaik. Yang mereka percaya hanya dua hal: pertama ini akan menjadi sebuah rakhmat yang tiada terkira, kedua Sarwidi akan mati dengan sia-sia.
    Sebelum pagi lahir di ufuk timur, Sarwidi, dengan kebulatan tekadnya yang sudah terlampau tinggi ketimbang rasa sakitnya, berangkat menuju tempat yang diinformasikan oleh Nenek Ribut. Lelaki tua itu diberi perbekalan air yang jauh dikatakan cukup, setengah ember, yang sebenarya jauh lebih banyak daripada bagian warga yang lain. Pagi yang begitu purba di desa yang terlahir bagai neraka, sekumpulan orang tua sedang melepas seorang kakek yang dipercaya bakal membawa rakhmat bagi desanya.
    Pagi yang penuh harapan di desa yang dilahirkan seperti neraka. Mendadak pagi terasa hangat, sama sekali tidak panas seperti hari-hari sebelumnya. Matahari terbit perlahan membawa embun yang sejuk, kemudian menanjak ke langit dengan fase yang begitu menghangatkan. Angin pun bertiup sepoi-sepoi membawa kesejukan. Dari arah hutan yang sudah mengering, sayup-sayup terdengar suara burung yang berkicauan. Kemudian di depan gapura, dengan masing-masing tersenyum, sekumpulan orang tua yang kemarin telah hilang harap mulai membersihkan desa itu—seadanya.
    “Dengar! Kau mendengarnya kan? Itu adalah pertanda rakhmat dari perjalanan Sarwidi!” seorang nenek berjalan cepat beberapa langkah ke arah hutan.
    “Benar kau Runtah, itu burung yang telah lama hilang suaranya, bagaimana mungkin bisa hidup lagi ya?”
    “Tidak salah lagi! Aku ingat, burung itu tak pernah jauh dari mata air!”
    “Iya benar ! Ayo kita ke sana!”
    Sejurus tanpa ragu lima orang tua berjalan ke arah hutan. Sisanya berusaha membersihkan desa, mengupayakan yang terbaik untuk menyambut Kakek Sarwidi. Lima orang tua berjalan menyusur hutan, mengikuti aliran sungai yang telah mengering. Berbekal cangkul, sabit, dan alat-alat yang sederhana lainnya mereka berjalan penuh semangat. Sampailah mereka di sebuah batu besar, tempat seekor burung bertengger. Tanpa aba-aba dari siapa pun, masin-masing dari mereka berinisatif untuk membersihkan tempat itu, mulai dari membersihkan badan sungai yang sudah mengering hingga mencangkuli lumut-lumut di batu besar itu.
    “Karto! Sini Karto! Ada air, ada air!” seorang tua yang mencangkul lumut berteriak kegirangan.
    “Air! Iya, air!” sebagian yang lain ikut girang melihat sebuah batu besar yang mengeluarkan air begitu deras.
    “Air, air, air!” lima orang tua berjalan setengah berlari menuju desa mereka. Kemudian yang di desa Nampak terharu mendengarnya, mereka sudah tak perlu lagi merasa dibohongi lantaran pada suara-suara itu harapan mereka ditambatkan.
    Hari-hari berikutnya, keadaan dengan ajaib membaik. Batu besar itu terus mengeluarkan air. Hingga pada hari ketiga, sungai sudah penuh. Warga desa itu tak perlu lagi berjalan terlalu jauh untuk mendapat air. Hari silih berganti, minggu berputar hingga bulan. Suka cita warga desa yang hanya berdelapan itu semakin membahana lantaran dengan tak duga-duga, hewan-hewan lekas berdatangan ke hutan dan bantaran sungai. Hingga dua purnama berlalu, dan berita semakin membaiknya desa yang dulunya terlahir seperti neraka itu mulai tersebar ke mana-mana. Sejurus kemudian, tamu mulai berdatangan, kemudian desa mendadak ramai di bulan kelima. Di bulan ke enam, tamu-tamu mulai memutuskan menetap menempati desa yang mulai tumbuh subur namun hanya dihuni delapan orang tua. Hingga bulan ke sembilan, segala sesuatunya berangsung membaik dengan cepat. Anak-anak bermain layang-layang, ternak berlalu-lalang, warga bahagia membawa hasil kebun, hingga mulai terdengar suara bayi lahir di sudut desa. Kebahagiaan yang tak pernah disangka jika mengingat, sepuluh bulan sebelumnya. Sungguh keajaiban yang tak pernah di sangka-sangka.
    Namun kebahagiaan itu tidak datang pada seorang nenek tua dengan rumah paling buruk di dekat pintu gapura desa. Saban hari dihabiskan mengurung diri, keluar ketika pagi buta, lalu masuk lagi, dan akan keluar lagi ketika senja menua. Warga desa yang masih muda-muda itupun tak begitu akrab dengannya, hanya beberapa orang tua yang terlihat beberapa kali bertamu ke rumahnya.
    “Mbah? Makanlah? Sejak aku datang ke desa ini, aku tak pernah paham kenapa kau tak pernah bahagia dengan melimpahnya kesuburan dari desa surga ini?”
    “Kau tak akan paham lantaran kau tak pernah mengenalnya!” ketus perempuan tua itu dengan suara berat dan mata yang tajam seolah berbicara: pergilah, tinggalkan aku sendiri.
    ***
    Surakarta, Oktober 2018

    *) Cerpen ini terpublikasi di Solopos Edisi Minggu 2 Desember 2018

  • 0 Comments:

    Posting Komentar