Nun dari tempat yang sangat jauh, seorang perempuan tua berjalan tergopoh-gopoh. Langkahnya yang tergesa membuat dua ember air yang dibawanya terbuang sedikit demi sedikit dengan percuma. Namun tak pernah sedikitpun terlintas kesia-siaan di benaknya, ketika dengan langkah yang sungguh susah payah, dia berhasil pulang ke desanya. Desa yang begitu kering dihantam kemarau dalam waktu yang sudah tidak bisa diperkirakan lamanya. Sungai-sungai kering, bahan makanan tak ada, uangpun tak ada gunanya. Berkali-kali mereka mengirim surat ke pusat pemerintahan, namun tak ada tanda-tanda pertolongan akan datang. Warga lekas berpindah, mengungsi ke desa lain yang lebih bisa menjanjikan kehidupan. Hingga tersisa lima rumah tangga yang seluruhnya berusia tua, bahkan salah satu rumah di antaranya sudah dirundung duka. Lantaran seorang kakek tua terserang penyakit yang tidak ada obatnya.
Sebenarnya
desa itu bukanlah desa di tengah gurun seperti yang dibayangkan orang-orang
ketika mendengar cerita beradegan kemarau panjang. Desa itu terletak di kaki
bukit yang seharusnya memiliki air yang melimpah. Desa yang seharusnya memiliki
kebun-kebun yang hijau berjejer di sepanjang jalan. Yang ketika di pagi buta
warganya sudah bangun menembus embun pagi untuk bercocok tanam atau mengecek
ternak mereka yang dijaga dari binatang buas. Lalu ketika senja tiba
orang-orang akan berlalu lalang, sebagian membawa hasil kebun mereka, sebagian
lagi pulang usai mandi dan mencuci baju di sungai. Desa yang seharusnya ketika malam
ramai oleh anak bermain petak umpet di bawah siraman bulan, lalu ketika tengah
malam tiba, pos ronda menjadi pusat keramaian para peronda. Desa yang seharusnya
memberikan kebahagiaan kepada siapapun yang datang mampir, bisa menyediakan
gubug sejuk untuk makan atau sekedar air minum.
Namun
yang terjadi justru sebaliknya, desa yang digambarkan sebagai jelmaan neraka di
dunia ini, sangat kering. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Berbagai tanaman
tumbuh meranggas, dengan duri-duri tajam dan tubuh yang kering. Tanpa daun. Tak
ada ternak yang bisa hidup lebih dari satu purnama. Bahkan warganya
perlahan-lahan memilih pindah ke desa di balik bukit. Hanya mereka yang
benar-benar mencintai dan mengupayakan kelestarian adat desa yang bisa bertahan—dengan
air yang diambil setelah berjalan seharian dan makanan yang hanya bisa
dikonsumsi dua hari sekali. Sungguh neraka yang terlahir di dunia.
Keadaan
itulah yang membawa nenek Ribut berjalan seharian demi dua ember air yang akan
digunakan oleh sembilan orang tua yang tersisa di desa itu—yang satu di
antaranya sudah sakit parah. Nenek Ribut berjalan tergopoh-gopoh membelah udara
panas siang itu. Sayup-sayup dari pandangannya sudah terlihat kakek Jaya—yang
sudah berjalan bungkuk—menyambutnya di gapura desa.
“Sabar
Nyai, lihatlah, airmu tumpah semua.”
“Sudah
tidak diragukan lagi, aku melihatnya Ki!”
“Siapa?”
“Aku
melihatnya, hanya mereka yang bisa menolong kita dan desa ini.” sambil menata
napas dan membawa sisa air yang masing-masing tinggal setengah.
“Siapa,
Nyai?” dengan suara yang begitu lirih namun dengan penekanan yang sangat dalam.
“Harut
dan marut.”
Agak lama
mereka berpandangan dan terdiam. Tanpa ada kata-kata yang perlu diucapkan lagi,
kakek Jaya berjalan dengan langkah tercepatnya, mendatangi rumah-rumah yang
masih ada kehidupan. Kemudian mengundang mereka berkumpul sore ini, sebelum
senja hilang.
Konon jauh sebelum kita
dilahirkan, ada dua malaikat yang diutus Tuhan ke bumi. Menjelma manusia yang
utuh dengan akal dan nafsu, kemudian mengabdi di sebuah kerajaan yang tumbuh
subur praktik sihirnya. Dua malaikat itu berinisiatif membasmi praktik sihir
dengan cara dan upayanya masing-masing. Hingga pada satu waktu, iblis datang
membawa syahwat yang tak bisa ditahan. Luruhlah kesuciannya. Di satu hari yang
tak diduga, Jibril datang, kedua malaikat itu luruh hatinya. Menangis tersedu.
Dengan ketakutan yang sudah di ubun-ubun kepala, mereka meminta pengampunan.
Kemudian Tuhan mengekalkannya di Bumi hingga kiamat datang. Hari silih berganti, bulan terbit dan
tenggelam, hingga tahun-tahun jatuh-lahir bergantian. Orang-orang kini memburu
kedua malaikat yang dikekalkan itu, untuk mencari rakhmat dan meminta
pertolongan. Hingga pada satu waktu yang tak terduga, seorang perempuan yang
sudah sangat tua menemukannya dalam keadaan kepala di bawah dan kaki terikat di
atas.
“Aku
melihatnya, tepat ketika aku selesai menimba air di sumur itu!” nenek Ribut
berhenti sejenak, dengan mata yang berkaca-kaca dan napas yang terengah-engah
lantaran bahagianya. Berjeda agak lama, dia mulai berbicara lagi,
“Aku
yakin sekali, dia menginginkan kau datang padanya! Iya, kau Sarwidi!”
Sekumpulan
orang tua di depan pos ronda itu terdiam semua. Sejenak masing-masing dari
mereka berusaha mencerna maksud dari perkataan Nenek Ribut. Dua orang yang
perempuan tua itu anggap sebagai jelmaan malaikat menginginkan seorang tua yang
bahkan untuk berjalan perlu dibantu orang lain datang sendirian menyusur bukit
yang terjal. Sungguh hal yang tidak masuk akal bagi mereka.
“Iya! Kau
Sarwidi, lelaki yang selama ini ditunggu-tunggu oleh mereka, untuk membawa
rakhmat ke desa kita ini.” perempuan tua itu berbicara sambil menahan haru.
Sekumpulan
orang tua di depan pos ronda itu mendadak mendengung. Mereka berbisik satu sama
lain, seolah tak percaya. Namun tiba-tiba dengan langkah yang tak kokoh,
seorang lelaki tua mencoba berdiri: Diamlah!
Jika aku yang mereka inginkan datang, aku akan berangkat mendahului fajar esok
hari. Sambil terbatuk dengan suara serak namun begitu berat dan mengesankan
tegasnya.
Sekumpulan
tua yang lain pun mengangguk, bukan sepakat, namun lebih pada sebuah kepasrahan
lantaran otak mereka sudah terlalu bebal untuk mencari jalan terbaik. Yang
mereka percaya hanya dua hal: pertama ini akan menjadi sebuah rakhmat yang
tiada terkira, kedua Sarwidi akan mati dengan sia-sia.
Sebelum
pagi lahir di ufuk timur, Sarwidi, dengan kebulatan tekadnya yang sudah
terlampau tinggi ketimbang rasa sakitnya, berangkat menuju tempat yang
diinformasikan oleh Nenek Ribut. Lelaki tua itu diberi perbekalan air yang jauh
dikatakan cukup, setengah ember, yang sebenarya jauh lebih banyak daripada
bagian warga yang lain. Pagi yang begitu purba di desa yang terlahir bagai
neraka, sekumpulan orang tua sedang melepas seorang kakek yang dipercaya bakal
membawa rakhmat bagi desanya.
Pagi yang
penuh harapan di desa yang dilahirkan seperti neraka. Mendadak pagi terasa
hangat, sama sekali tidak panas seperti hari-hari sebelumnya. Matahari terbit
perlahan membawa embun yang sejuk, kemudian menanjak ke langit dengan fase yang
begitu menghangatkan. Angin pun bertiup sepoi-sepoi membawa kesejukan. Dari
arah hutan yang sudah mengering, sayup-sayup terdengar suara burung yang
berkicauan. Kemudian di depan gapura, dengan masing-masing tersenyum,
sekumpulan orang tua yang kemarin telah hilang harap mulai membersihkan desa
itu—seadanya.
“Dengar!
Kau mendengarnya kan? Itu adalah pertanda rakhmat dari perjalanan Sarwidi!”
seorang nenek berjalan cepat beberapa langkah ke arah hutan.
“Benar
kau Runtah, itu burung yang telah lama hilang suaranya, bagaimana mungkin bisa
hidup lagi ya?”
“Tidak
salah lagi! Aku ingat, burung itu tak pernah jauh dari mata air!”
“Iya
benar ! Ayo kita ke sana!”
Sejurus
tanpa ragu lima orang tua berjalan ke arah hutan. Sisanya berusaha membersihkan
desa, mengupayakan yang terbaik untuk menyambut Kakek Sarwidi. Lima orang tua
berjalan menyusur hutan, mengikuti aliran sungai yang telah mengering. Berbekal
cangkul, sabit, dan alat-alat yang sederhana lainnya mereka berjalan penuh
semangat. Sampailah mereka di sebuah batu besar, tempat seekor burung bertengger.
Tanpa aba-aba dari siapa pun, masin-masing dari mereka berinisatif untuk
membersihkan tempat itu, mulai dari membersihkan badan sungai yang sudah
mengering hingga mencangkuli lumut-lumut di batu besar itu.
“Karto!
Sini Karto! Ada air, ada air!” seorang tua yang mencangkul lumut berteriak
kegirangan.
“Air!
Iya, air!” sebagian yang lain ikut girang melihat sebuah batu besar yang
mengeluarkan air begitu deras.
“Air, air, air!” lima
orang tua berjalan setengah berlari menuju desa mereka. Kemudian yang di desa
Nampak terharu mendengarnya, mereka sudah tak perlu lagi merasa dibohongi
lantaran pada suara-suara itu harapan mereka ditambatkan.
Hari-hari
berikutnya, keadaan dengan ajaib membaik. Batu besar itu terus mengeluarkan
air. Hingga pada hari ketiga, sungai sudah penuh. Warga desa itu tak perlu lagi
berjalan terlalu jauh untuk mendapat air. Hari silih berganti, minggu berputar
hingga bulan. Suka cita warga desa yang hanya berdelapan itu semakin membahana
lantaran dengan tak duga-duga, hewan-hewan lekas berdatangan ke hutan dan
bantaran sungai. Hingga dua purnama berlalu, dan berita semakin membaiknya desa
yang dulunya terlahir seperti neraka itu mulai tersebar ke mana-mana. Sejurus
kemudian, tamu mulai berdatangan, kemudian desa mendadak ramai di bulan kelima.
Di bulan ke enam, tamu-tamu mulai memutuskan menetap menempati desa yang mulai
tumbuh subur namun hanya dihuni delapan orang tua. Hingga bulan ke sembilan,
segala sesuatunya berangsung membaik dengan cepat. Anak-anak bermain layang-layang,
ternak berlalu-lalang, warga bahagia membawa hasil kebun, hingga mulai
terdengar suara bayi lahir di sudut desa. Kebahagiaan yang tak pernah disangka
jika mengingat, sepuluh bulan sebelumnya. Sungguh keajaiban yang tak pernah di
sangka-sangka.
Namun
kebahagiaan itu tidak datang pada seorang nenek tua dengan rumah paling buruk
di dekat pintu gapura desa. Saban hari dihabiskan mengurung diri, keluar ketika
pagi buta, lalu masuk lagi, dan akan keluar lagi ketika senja menua. Warga desa
yang masih muda-muda itupun tak begitu akrab dengannya, hanya beberapa orang
tua yang terlihat beberapa kali bertamu ke rumahnya.
“Mbah?
Makanlah? Sejak aku datang ke desa ini, aku tak pernah paham kenapa kau tak
pernah bahagia dengan melimpahnya kesuburan dari desa surga ini?”
“Kau tak
akan paham lantaran kau tak pernah mengenalnya!” ketus perempuan tua itu dengan
suara berat dan mata yang tajam seolah berbicara: pergilah, tinggalkan aku sendiri.
***
Surakarta,
Oktober 2018
*) Cerpen ini terpublikasi di Solopos Edisi Minggu 2 Desember 2018
0 Comments:
Posting Komentar