• Lelaki Tua Bermata Seputih Susu [Cerpen Sapta Arif]




    Bagaimanapun juga lelaki tua yang tak dikenalnya itu sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Bukan tanpa alasan Rose memiliki perasaan itu, dia—lelaki tua yang buta itu, adalah satu-satunya manusia yang hidup di dunia ini yang masih mau—benar-benar—mendengar segala keluh kesah Rose. Hal ini berbeda dengan puluhan lelaki yang menjadi teman tidurnya di tiap malam, yang sekadar mau mendengar keluh kesah Rose, lalu menjadi lebih perhatian, dan tentu imbalannya adalah servis plus-plus dari perempuan itu. Lelaki itu berbeda. Lelaki tua yang buta itu sangat berbeda. Dia adalah pendengar yang baik, penasihat ulung, dan mampu melihat takdir seseorang. Seperti halnya kematian.
    Rose terkadang heran sendiri, jika berbicara dengan lelaki tua itu. Dia percaya bahwa lelaki tua itu mampu melihat takdir seseorang. Keheranan Rose bukan tanpa alasan, dia mempercayai pengliatan takdir pada seorang lelaki tua yang buta, yang matanya putih, seputih susu. Namun dari sanalah, Rose seringkali menemukan hal-hal ajaib. Seperti awan selembut kapas yang berwarna merah muda, puluhan laron berwarna biru yang mengelilingi keremangan lampu jalan, kilat cahaya oranye di tubuh kunang-kunang, dan masih banyak lagi. Baginya, mata seputih susu itu adalah mata yang ajaib, mata yang mampu menerjemahkan sedih menjadi bahagia.
    Rose tidak pernah kesulitan menemukan lelaki tua itu. Ketika dia pulang kerja, lelaki tua itu sudah pasti duduk di sebuah bangku panjang taman kota. Rose dan teman-temannya terbiasa mangkal tidak jauh dari sana. Di jembatan—yang tak jauh dari taman, di bawah keremangan lampu jalan, Rose dan beberapa temannya berjejer sepanjang trotoar jalan kemudian mereka akan mulai menjajakan diri. Selanjutnya, jika mereka mendapatkan pelanggan, mereka tak perlu repot-repot mencari hotel, di belakang taman kota itu, berjejer beberapa hotel mewah. Dan pun jika pelanggan mereka agak pelit, Rose dan teman-temannya akan membawa ke losmen di seberang sungai yang terbelah oleh jembatan.
    Semua mengenalnya, lelaki tua yang buta itu adalah seorang penjual koran. Sebelum pagi lahir, tongkat kayunya akan menuntun lelaki tua itu ke perempatan Kedai Starcoffe. Sebuah kafe mewah yang menjadi andalan orang kantoran untuk obral obrolan perihal pedihnya kehidupan. Lalu jika malam telah berangkat kerja, lelaki tua itu akan duduk di salah satu bangku taman kota. Sambil memainkan harmonika, kemudian bersenandung bersama malam.
    “Kematian itu begitu unik Nak, dia berbau manis seperti coklat, namun ada sedikit anyir di pangkalnya. Sangat nikmat disertai sedikit bumbu kepedihan.”
    “Hahaha... Memang ada ya? Coklat rasa anyir darah, Kek?”
    “Lalu warnanya...”
    “Putih kelam, mendekati abu-abu kan Kek?”
    “Iya! Benar Nak. Dan memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh jasmaninya.”
    Sudah berulangkali lelaki tua itu bercerita soal warna kematian. Putih kelam mendekati abu-abu dan memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh jasmaninya. Seperti itu lelaki tua itu mengilustrasikan kematian, sambil meraba-raba pegangan tongkat kayunya yang berbentuk kepala naga. Mata putihnya akan berkeliling setiap kali dia berbicara. Ke kiri, kanan, kiri, dan kanan.
    “Lihatlah Nak... Di lampu jalan dekat jembatan itu, sekumpulan laron berwarna biru. Sangat indah. Mereka selalu datang dalam kelahiran yang bahagia, meski Tuhan memberikan hidup hanya sekejap. Lihatlah... betapa hidup harus dirayakan dengan suka cita, kesedihan hanyalah debu yang sangat kecil di samudra kehidupan manusia. Berbahagialah Nak... Kau masih diberi hidup.”
    “Mana ada laron berwarna biru Kek?” Rose tersenyum, dan seketika air matanya malam itu berhenti. Lelaki tua itu memiliki sepasang mata putih yang indah, sangat murni, tak ada noda sama sekali.
    “Wahahaha kau tak akan paham Nak, pengliatanku mampu menangkap warna kehidupan semua makhluk. Dan warna kehidupanmu...”
    “Kuning cerah dengan kelopak mata yang ekspresif. Penuh kebohongan untuk banyak orang, namun tidak padamu kan Kek...”
    “Iya Nak...” lelaki tua itu tersenyum, Rose mengingat betul apa yang pernah dia sampaikan ketika pertama kali mereka bertemu.
    Malam yang muram mengantar Rose menyusuri trotoar jalan. Hari itu ada yang berbeda dari kebiasaannya. Dia begitu rindu dengan lelaki tua yang buta itu. Sebelum berangkat kerja, sambil membawa sekotak makanan, dia berniat mengunjungi lelaki tua itu. Namun bukanlah sambutan baik yang diterimanya, lelaki tua itu malah menyuruhnya pulang.
     “Alangkah baiknya jika Kau pulang saja Nak... Kau tak seharusnya bekerja malam ini.” Ucap lelaki tua itu sebelum Rose duduk di bangku yang ia duduki.
    Rose hanya tersenyum, lalu memberikan sekotak makanan yang sengaja dia bawa dari rumah kemudian beranjak pergi. Namun ketika perempuan itu akan beranjak pergi, lelaki tua itu menahan tangannya.
    “Pulanglah Nak.., Aku melihat kematian menggantung di atas kepalamu. Dia berwarna coklat pekat. ” lelaki tua itu menggenggam tangan Rose begitu kuat.
    “Bukankah pernah kukatakan Kek, hidup dan matiku adalah suratan takdir. Ingatkah Kau dengan pesanmu sendiri Kek, hidup harus dirayakan dengan suka cita, kesedihan hanyalah debu kecil di samudra kehidupan manusia.” Ucap Rose sambil perlahan melepas genggaman tangan lelaki tua itu.
    Matanya masih berkeliling, ke kiri, kanan, kiri dan kanan. Ada yang tertahan di bibirnya yang membuat Rose tak tega meninggalkannya malam itu. Namun dia harus tetap berangkat kerja untuk menyambung hidup.
    Malam yang kelam bagi lelaki tua yang buta itu. Sebuah malam yang tak diinginkan baginya, bagi Rose pula. Sebelum malam memuncak, suara sirine polisi berkejaran di telinga, beberapa kali terdengar teriakan perempuan. Namun dari sekian teriakan, ada sebuah suara yang dia hapal, suara yang kerapkali terngiang-ngiang di malam panjangnya. Memori lelaki tua itu merekam jelas, di atas jembatan, di bawah kemerangan lampu jalan, Rose dan beberapa temannya yang mangkal terciduk satpol PP. Perempuan malang itu tak sempat melarikan diri, tubuh indahnya dengan cepat dipaksa masuk ke atas mobil. Ada beberapa luka legam di wajahnya. Tanpa sadar, mata putih lelaki tua itu meneteskan air mata. Tangannya masih tetap meraba-raba ujung tongkatnya. Dia tak bisa apa-apa. Dia hanyalah seorang loper koran tua yang buta dan lemah tak berdaya. Berkali-kali lelaki tua itu berusaha menutup matanya sambil memalingkan muka, namun tetap mata seputih susu itu tetap terekam, ingatannya tetap melihat dengan gamblang: Rose dan beberapa temannya diangkut paksa dari jalanan. Beberapa dari mereka menerima tamparan.
    ***

    Malam ketiga, sejak Rose diangkut paksa. Lelaki tua itu masih tetap berada di bangku taman. Di sebelahnya ada sebungkus makanan. Mata putihnya berkeliling, ke kiri, kanan, kiri, dan kanan. Sangat sepi, sesekali ada beberapa pasangan muda-mudi berlalu-lalang. Namun hingga malam ketiga, tidak dia temukan sebuah kabar dari perempuan itu. Di satu waktu di kesepiannya malam itu, lelaki tua itu menoleh pada seorang perempuan yang berjalan menunduk melewatinya.
    “Nak.... Kemari, mendekatlah, aku melihat kebahagiaan menggantung di atas kepalamu...” ucap lelaki tua itu.
    ***
    Surakarta, 23 Mei 2018
    Cerita pendek tersiar di Suara Merdeka edisi Minggu 24 Februari 2019

    Dimuat pula di:

  • 0 Comments:

    Posting Komentar