Bagaimanapun juga lelaki
tua yang tak dikenalnya itu sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Bukan tanpa alasan Rose memiliki perasaan itu, dia—lelaki tua yang buta itu,
adalah satu-satunya manusia yang hidup di dunia ini yang masih
mau—benar-benar—mendengar segala keluh kesah Rose. Hal ini berbeda dengan
puluhan lelaki yang menjadi teman tidurnya di tiap malam, yang sekadar mau
mendengar keluh kesah Rose, lalu menjadi lebih perhatian, dan tentu imbalannya
adalah servis plus-plus dari perempuan itu. Lelaki itu berbeda. Lelaki tua yang
buta itu sangat berbeda. Dia adalah pendengar yang baik, penasihat ulung, dan
mampu melihat takdir seseorang. Seperti halnya kematian.
Rose
terkadang heran sendiri, jika berbicara dengan lelaki tua itu. Dia percaya
bahwa lelaki tua itu mampu melihat takdir seseorang. Keheranan Rose bukan tanpa
alasan, dia mempercayai pengliatan takdir pada seorang lelaki tua yang buta,
yang matanya putih, seputih susu. Namun dari sanalah, Rose seringkali menemukan
hal-hal ajaib. Seperti awan selembut kapas yang berwarna merah muda, puluhan
laron berwarna biru yang mengelilingi keremangan lampu jalan, kilat cahaya
oranye di tubuh kunang-kunang, dan masih banyak lagi. Baginya, mata seputih
susu itu adalah mata yang ajaib, mata yang mampu menerjemahkan sedih menjadi
bahagia.
Rose
tidak pernah kesulitan menemukan lelaki tua itu. Ketika dia pulang kerja,
lelaki tua itu sudah pasti duduk di sebuah bangku panjang taman kota. Rose dan
teman-temannya terbiasa mangkal tidak jauh dari sana. Di jembatan—yang tak jauh
dari taman, di bawah keremangan lampu jalan, Rose dan beberapa temannya
berjejer sepanjang trotoar jalan kemudian mereka akan mulai menjajakan diri.
Selanjutnya, jika mereka mendapatkan pelanggan, mereka tak perlu repot-repot
mencari hotel, di belakang taman kota itu, berjejer beberapa hotel mewah. Dan
pun jika pelanggan mereka agak pelit, Rose dan teman-temannya akan membawa ke
losmen di seberang sungai yang terbelah oleh jembatan.
Semua
mengenalnya, lelaki tua yang buta itu adalah seorang penjual koran. Sebelum
pagi lahir, tongkat kayunya akan menuntun lelaki tua itu ke perempatan Kedai Starcoffe. Sebuah kafe mewah yang
menjadi andalan orang kantoran untuk obral obrolan perihal pedihnya kehidupan.
Lalu jika malam telah berangkat kerja, lelaki tua itu akan duduk di salah satu
bangku taman kota. Sambil memainkan harmonika, kemudian bersenandung bersama
malam.
“Kematian
itu begitu unik Nak, dia berbau manis seperti coklat, namun ada sedikit anyir
di pangkalnya. Sangat nikmat disertai sedikit bumbu kepedihan.”
“Hahaha...
Memang ada ya? Coklat rasa anyir darah, Kek?”
“Lalu
warnanya...”
“Putih
kelam, mendekati abu-abu kan Kek?”
“Iya!
Benar Nak. Dan memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh
jasmaninya.”
Sudah
berulangkali lelaki tua itu bercerita soal warna kematian. Putih kelam
mendekati abu-abu dan memiliki ekor di pangkal yang terhubung dengan tubuh
jasmaninya. Seperti itu lelaki tua itu mengilustrasikan kematian, sambil
meraba-raba pegangan tongkat kayunya yang berbentuk kepala naga. Mata putihnya
akan berkeliling setiap kali dia berbicara. Ke kiri, kanan, kiri, dan kanan.
“Lihatlah
Nak... Di lampu jalan dekat jembatan itu, sekumpulan laron berwarna biru. Sangat
indah. Mereka selalu datang dalam kelahiran yang bahagia, meski Tuhan
memberikan hidup hanya sekejap. Lihatlah... betapa hidup harus dirayakan dengan
suka cita, kesedihan hanyalah debu yang sangat kecil di samudra kehidupan manusia.
Berbahagialah Nak... Kau masih diberi hidup.”
“Mana
ada laron berwarna biru Kek?” Rose tersenyum, dan seketika air matanya malam
itu berhenti. Lelaki tua itu memiliki sepasang mata putih yang indah, sangat
murni, tak ada noda sama sekali.
“Wahahaha
kau tak akan paham Nak, pengliatanku mampu menangkap warna kehidupan semua
makhluk. Dan warna kehidupanmu...”
“Kuning
cerah dengan kelopak mata yang ekspresif. Penuh kebohongan untuk banyak orang,
namun tidak padamu kan Kek...”
“Iya
Nak...” lelaki tua itu tersenyum, Rose mengingat betul apa yang pernah dia
sampaikan ketika pertama kali mereka bertemu.
Malam
yang muram mengantar Rose menyusuri trotoar jalan. Hari itu ada yang berbeda
dari kebiasaannya. Dia begitu rindu dengan lelaki tua yang buta itu. Sebelum
berangkat kerja, sambil membawa sekotak makanan, dia berniat mengunjungi lelaki
tua itu. Namun bukanlah sambutan baik yang diterimanya, lelaki tua itu malah
menyuruhnya pulang.
“Alangkah baiknya jika Kau pulang saja Nak...
Kau tak seharusnya bekerja malam ini.” Ucap lelaki tua itu sebelum Rose duduk
di bangku yang ia duduki.
Rose
hanya tersenyum, lalu memberikan sekotak makanan yang sengaja dia bawa dari
rumah kemudian beranjak pergi. Namun ketika perempuan itu akan beranjak pergi,
lelaki tua itu menahan tangannya.
“Pulanglah
Nak.., Aku melihat kematian menggantung di atas kepalamu. Dia berwarna coklat pekat.
” lelaki tua itu menggenggam tangan Rose begitu kuat.
“Bukankah
pernah kukatakan Kek, hidup dan matiku adalah suratan takdir. Ingatkah Kau dengan
pesanmu sendiri Kek, hidup harus dirayakan dengan suka cita, kesedihan hanyalah
debu kecil di samudra kehidupan manusia.” Ucap Rose sambil perlahan melepas
genggaman tangan lelaki tua itu.
Matanya masih berkeliling, ke kiri, kanan,
kiri dan kanan. Ada yang tertahan di bibirnya yang membuat Rose tak tega
meninggalkannya malam itu. Namun dia harus tetap berangkat kerja untuk
menyambung hidup.
Malam yang kelam bagi lelaki tua yang buta
itu. Sebuah malam yang tak diinginkan baginya, bagi Rose pula. Sebelum malam
memuncak, suara sirine polisi berkejaran di telinga, beberapa kali terdengar
teriakan perempuan. Namun dari sekian teriakan, ada sebuah suara yang dia
hapal, suara yang kerapkali terngiang-ngiang di malam panjangnya. Memori lelaki
tua itu merekam jelas, di atas jembatan, di bawah kemerangan lampu jalan, Rose
dan beberapa temannya yang mangkal terciduk satpol PP. Perempuan malang itu tak
sempat melarikan diri, tubuh indahnya dengan cepat dipaksa masuk ke atas mobil.
Ada beberapa luka legam di wajahnya. Tanpa sadar, mata putih lelaki tua itu
meneteskan air mata. Tangannya masih tetap meraba-raba ujung tongkatnya. Dia
tak bisa apa-apa. Dia hanyalah seorang loper koran tua yang buta dan lemah tak
berdaya. Berkali-kali lelaki tua itu berusaha menutup matanya sambil
memalingkan muka, namun tetap mata seputih susu itu tetap terekam, ingatannya
tetap melihat dengan gamblang: Rose dan beberapa temannya diangkut paksa dari
jalanan. Beberapa dari mereka menerima tamparan.
***
Malam
ketiga, sejak Rose diangkut paksa. Lelaki tua itu masih tetap berada di bangku
taman. Di sebelahnya ada sebungkus makanan. Mata putihnya berkeliling, ke kiri,
kanan, kiri, dan kanan. Sangat sepi, sesekali ada beberapa pasangan muda-mudi
berlalu-lalang. Namun hingga malam ketiga, tidak dia temukan sebuah kabar dari
perempuan itu. Di satu waktu di kesepiannya
malam itu, lelaki tua itu menoleh pada seorang perempuan yang berjalan menunduk
melewatinya.
“Nak.... Kemari, mendekatlah, aku melihat
kebahagiaan menggantung di atas kepalamu...” ucap lelaki tua itu.
***
Surakarta,
23 Mei 2018
Cerita pendek tersiar di Suara Merdeka edisi Minggu 24 Februari 2019
Dimuat pula di:

0 Comments:
Posting Komentar